Rabu, 18 Mei 2011

FIFA Tak Mau Permalukan Tokoh Indonesia


INILAH.COM, Jakarta – Federasi Asosiasi Sepakbola Internasional (FIFA) dan Komite Banding Pemilihan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) diduga ingin menjaga nama baik Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal George Toisutta dan pengusaha Arifin Panigoro.
Presiden Negarawan Center Johan Oloan Silalahi mengemukakan hal itu dalam percakapan dengan INILAH.COM, Rabu (18/5/2011). Aktivis Koalisi Independen untuk Rekonsiliasi Sepakbola Nasional (Konsen) itu menanggapi keputusan FIFA yang tetap menguatkan keputusan Komite Banding PSSI pimpinan Prof Tjipta Lesmana dengan melarang diajukannya George Toisutta dan Arifin Panigoro sebagai bakal calon ketua umum, wakil ketua umum atau anggota Komite Eksekutif PSSI 2011-2015.
Sejauh ini, baik Komite Banding maupun FIFA tidak menjelaskan lebih rinci kenapa mereka menggugurkan peluang kedua orang yang bersama sejumlah nama lain juga dilarang mencalonkan diri itu. Sejauh ini, nama-nama lain yang tidak direstui FIFA sebagai otoritas epakbola tertinggi di dunia bisa menerima dengan legowo dan tidak ngotot maju.
Sebaliknya, kubu George Toisutta dan Arifin Panigoro tetap ngotot agar jago mereka bisa maju ke bursa calon ketua umum/wakil ketua umum di Kongres Pemilihan PSSI di Jakarta 20 Mei ini. Para pendukung mereka yang mengklaim ditopang 78 pemilik suara PSSI (dikenal sebagai Kelompok 78 atau K78) bahkan mengancam melengserkan Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar yang telah diberi mandat khusus oleh FIFA untuk mengambil alih sementara kepengurusan PSSI dan menggelar kongres tersebut. K78 juga menyatakan tengah mengajukan gugatan ke Pengadilan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS) atas putusan FIFA melarang kedua jagoan mereka itu.
“Kenapa FIFA dan Komite Banding selama ini tidak membuka atau menjelaskan ke publik alasan mereka menolak George Toisutta dan Arifin Panigoro? Tentu, saya yakin, badan tertinggi sepakbola dunia itu punya alasan kuat dan tidak ingin ada pihak yang dipermalukan jika diungkap gambling ke publik,” ujar Johan.
Dia mengingatkan Indonesia sebaiknya mengikuti aturan dan kebijakan yang digariskan FIFA sebagai satu-satunya organisasi tertinggi sepakbola yang diakui dunia. “FIFA bahkan anggotanya lebih besar (banyak) daripada anggota PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa),” paparnya seraya membandingkan jumlah anggota FIFA yang mencapai 208 sedangkan anggota PBB 195 negara.
Menurut dia, Indonesia tidak ada apa-apanya dalam peta persepakbolaan dunia sehingga akan makin tenggelam jika terus-menerus menentang FIFA karena bisa membuat sanksi pembekuan bukan lagi sekadar ancaman tetapi benar-benar diterapkan. Dan, jika itu terjadi, Johan mengingatkan bahwa sepakbola Indonesia akan terhapus dari peta sepakbola dunia dan kompetisi sepakbola di Tanah Air tak ubahnya bagai turnamen antarkampung (tarkam). Bukan hanya itu, negara-negara lain pun enggan mendekati sepakbola Indonesia karena mereka khawatir ikut terkena sanksi FIFA.
“Tidak ada dalam sejarahnya, ada yang memang melawan FIFA di pengadilan internasional. Alih-alih menang, mereka (kubu George Toisutta dan Arifin Panigoro yang mengajukan gugatan ke CAS) malah bisa dipermalukan karena di pengadilan nanti makin terbuka kenapa sampai FIFA bersikukuh melarang keduanya,” pungkas Johan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar